

YOU JUST ARRIVED AT A VERY RARE PLACE. THERE IS ONLY ONE PLACE LIKE THIS IN THE UNIVERSE. THIS PLACE IS CALLED MUAZ'S BLOG. READ AND ENJOY.


Cinta merupakan kata yang paling popular di dunia saat ini. Semua orang pasti pernah mendengarnya dan setiap manusia pasti punya persepsi masing-masing terhadapnya. Ada yang mengagung-agungkan kata sedemikian rupa. Di dalam berbagai kesempatan dibahas dan diucapkan dengan penuh ghairah. Bahkan ada yang memberi simbol yang khas, berbentuk hati dengan warna yang khas pula, merah jambu.
Maka kita sering mendengar kata-kata cinta diulang di dalam buku-buku, novel, cerpen, dikumandangkan melalui lagu-lagu, diucapkan dalam filem-filem, dijadikan bualan para remaja, dan lain-lain. Pendeknya, masyarakat didominasi oleh kata cinta ini.
Para ahli falsafah mencuba menafsirkan makna atau pengertian balik kata “cinta”. Para penyair menuliskannya dalam puisi sebagai keindahan, sebahagian manusia lain merasa mabuk cinta sehingga bertingkah laku di luar batas kewarasan. Cinta seperti ini akarnya adalah hawa nafsu yang menyesatkan.
“Dengan Yang demikian, Bagaimana fikiranmu (Wahai Muhammad) terhadap orang Yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan Yang dipatuhinya, dan ia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa ia tetap kufur ingkar), dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? maka siapakah lagi Yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan Dia berkeadaan demikian)? oleh itu, mengapa kamu (Wahai orang-orang Yang ingkar) tidak ingat dan insaf?”
(Surah al-Jatsiyah:23)
Memang, Allah SWT menjelaskan bahawa cinta pada mulanya merupakan suatu pembawaan pada diri manusia. Firman Allah yang artinya:
“Dihiaskan pada manusia kecintaan pada segala hal yang dia inginkan; daripada wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kendaraan yang ditambat, binatang-binatang ternak, sawah ladang.”
(QS. Ali Imran : 14).
Maksudnya, Allah telah menjadikan syahwat (keinginan) pada manusia untuk menguasai perhiasan hidup dunia. Maka pada manusia ada nafsu seksual, nafsu ingin kaya dan banyak harta, nafsu ingin berkuasa, ingin popular, ingin memiliki jaminan hidup, masa depan yang gemilang, dan sebagainya.
Tetapi kemudian banyak yang menyimpang dalam mencintai wanita, keturunan, harta dan jaminan hidup ini. Mereka mencintai dunia tanpa aturan dan lupa pada Pencipta semua itu, yaitu Allah SWT. Mereka lalai mencintai Pencipta segala kesenangan duniawi itu. Akibatnya mereka mendapat laknat Allah, malaikat, langit dan bumi, serta semua yang dapat melaknati.

Syirik Cinta
Cinta dunia berdasarkan syahwat ini seringkali mendominasi manusia sehingga membuatnya lupa pada cinta sejati. Ada manusia yang mencintai wanita (kekasih) sama dengan mencintai Allah, ada yang mencintai tanah air dan bangsa sama dengan mencintai Allah. Sikap cinta seperti itu berarti mengadakan tandingan selain Allah. Dan hal ini merupakan kemusyrikan yang dilaknat Allah:
“Dan di antara manusia ada yang mengambil andad (tandingan-tandingan) selain Allah (untuk dicintai). Mereka mencintai tandingan-tandingan itu sama dengan mencintai Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165).
Yaitu mereka mencintai sesuatu yang disukainya sama dengan mencintai Allah atau bahkan lebih dari mencintai Allah. Terhadap kekasihnya ia rela berkorban meski pun dengan memberikan nyawa. Ia akan bunuh diri bila putus cinta. Ada lagi yang mati-matian membela bangsanya, pada masa yang sama mengabaikan hukum-hakam dan undang-undang syariat Allah.
Cintanya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul hanya sekadar menjadikan kitab Al Quran dan kitab Hadis Nabi sebagai hiasan dan tangkal ataupun bacaan pembukaan majlis semata-mata. Na’uzubillah.
Kerusakan Masyarakat Akibat Syirik Cinta
Di tengah masyarakat yang terkena wabah syirik cinta segala kesenangan duniawi menjadi prioritas hidup. Si kaya mengeksploitasi si miskin untuk mendapat kesenangan hidup. Si kuat mendominasi yang lemah guna mempertahankan kekuasaan. Halal dan haram sudah tidak diperdulikan. Mana yang benar dan mana yang salah menjadi kabur.
Perbuatan jelek sering dianggap suatu kebaktian, sedang perbuatan baik dianggap pengkhianatan. Para pedagang menjadi manusia yang curang dan rakus terhadap harta. Para pegawai menjadi koruptor dan pengkhianat. Pelayanan masyarakat penuh dengan sogok menyogok. Wang riba dikatakan halal. Perbuatan zina dan maksiat dijadikan profesi.
Untuk mendapatkan penghasilan (wang), orang mau melaksanakan apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan hukum. Kerana hukumnya bukan hukum Allah maka pelanggaran susila, judi, dan sebagainya masih menyebar dan diperbolehkan. Paling banter hanya dilokalisasikan. Akhbar-akhbar, majalah, televisyen, filem-filem, panggung-panggung hiburan, tontonan, penerangan-penerangan, semuanya mengarahkan pada seks, cinta dunia (wang) dan mengikuti hawa nafsu yang rendah.
Tidak menghairankan, saat ini manusia saling memperbudak satu dengan yang lain. Atau menjadi budak wang, perempuan, jabatan, populariti, atau benda-benda yang dijadikan dambaannya. Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Kita seperti berada di pinggir jurang neraka! Kerana laknat Allah pasti akan menimpa masyarakat yang seperti itu. Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya:
“Celakalah hamba dunia, hamba dirham, celakalah hamba pakaian (mode) yaitu bila ia diberi ia merasa senang, tapi jika tidak ia murka.”
(HR. Bukhari)
Cinta Dunia
Saat ini umat Islam mengalami penyakit yang paling parah sepanjang sejarah. Penyakit yang diakibatkan kelalaian mereka sendiri terhadap ajaran Al-Qur’an dan Sunnah serta pengaruh dari musuh-musuh Islam. Inilah penyakit “Wahan” yang didefinisikan Rasulullah SAW sebagai “Hubbud dunya wa karahiyatul maut”, cinta dunia dan takut mati.
Faham materialisme yang saat ini membahana di dunia, juga mempengaruhi ummat Islam sehingga tersebar luaslah fenomena kemurtadan yang merambah luas. Banyak kaum muslimin yang merasa puas dengan kehidupan duniawi ini. Mereka lalai dari peringatan Allah SWT, yang ertinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.”
(QS. Yunus : 7-8).
Konsepsi Islam Tentang Cinta
Manusia hendaknya menjadikan Allah saja sebagai kecintaan yang utama. Setelah itu, boleh mencintai selain Allah asal dengan landasan mencintai Allah. Bila manusia didominasi oleh cinta selain Allah, maka ia akan menjadi hamba selain Allah. Dengan demikian ia terjerumus dalam “syirkul mahabbah” atau syirik cinta.
Untuk itu seorang muslim harus memiliki prioritas cinta. Yaitu memahami mana yang harus didahulukan dan mana yang ditangguhkan dalam bercinta. Keutamaan itu adalah:

Pertama, Cinta kepada Allah.
Ini merupakan cinta di atas segala kecintaan (faoqa kulli hubbin). Menjadi dasar dari kecintaan lainnya. Orang beriman mencintai Allah dengan teramat sangat,
“Dan orang-orang yang beriman teramat sangat cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165).
Cinta ini melahirkan penghambaan kepada Allah. Segala bentuk ketaatan, kesetiaan, kepatuhan dan ketundukan ditujukan untuk Allah saja. Maka hukum peraturan dan undang-undang-Nya wajib dilaksanakan.
Kedua, Cinta kepada Rasul.
Iaitu mencintai Rasul Allah, Muhammad SAW dan ajaran bimbingan hidup yang dibawanya. Cinta kepada Rasul termasuk cinta pada Islam. Untuk itu muslim wajib memperjuangkan Dienullah (agama Allah) dan siap berkorban demi tegaknya Islam. Rasulullah bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari anak, bapa, dan manusia seluruhnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, Cinta kepada Jihad.
Iaitu mencintai segala hal yang membawa pada ketinggian Islam. Khususnya orang-orang beriman yaitu mereka yang mengamalkan dan memperjuangkan Dien Allah. Rasulullah menjelaskan:
“Tidak beriman salah seorang kamu sebelum mencintai saudaranya sama dengan mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Muslim).
Mereka adalah saudara seiman dan se-Islam. Orang-orang beriman ini terdiri dari keluarga seperti isteri, anak, dan sanak saudara. Dan bukan keluarga. Semua terikat dalam jalinan ukhuwwah Islamiyyah yang dilandasi dengan aqidah dan keimanan kepada Allah.
Keempat, Mencintai yang lain kerana Allah.
Setelah mencintai tiga hal di atas, muslim pun boleh mencintai yang lain karena Allah. Mencintai segala yang membawa kemaslahatan pada agama Allah dan kaum muslimin. Rasulullah menjelaskan,
“Ada tiga hal, bila kesemuanya ada pada seseorang, dia akan merasakan lazatnya iman; pertama, bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari yang selain keduanya. Kedua, dia mencintai seseorang hanya karena cintanya kepada Allah. Ketiga, dia sangat takut kembali pada kekufuran seperti takutnya dimasukkan ke dalam neraka, maka ia menjauhinya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Mencintai pekerjaan, mencintai rumah tempat tinggal, dan sebagainya tidak dilarang. Hanya tidak boleh melampaui kecintaan terhadap Allah, Rasul, dan Jihad di jalan-Nya. Juga tidak boleh melalaikan dari peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Kegiatan apapun yang membawa pada peningkatan iman boleh dilakukan. Keutamaan tetap mengikuti urutan di atas. Ertinya, kepentingan Islam dan perjuangan harus selalu didahulukan baru kepentingan lainnya. Allah SWT memperingatkan:
“Katakanlah (Hai Muhammad): “Jika bapa-bapa, anak-anak, isteri-isteri, harta kekayaan yang kamu sukai, harta perniagaan yang kamu bimbangkan kerugiannya, tempat-tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah, Rasul, dan Jihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan hukuman-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq.”
(QS. At-Taubah: 24).
Bila konsepsi yang mulia ini dilaksanakan oleh kaum muslimin, maka mereka akan terhindar dari wabak syirik cinta yang sangat berbahaya itu. Aqidah Islam yang benar mampu membasmi syirik sampai ke akar-akarnya. Konsepsi Tauhid tentang cinta adalah konsepsi yang bisa menyelesaikan problematika yang dihadapi manusia saat ini. Al-Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
“Ada empat macam bentuk mahabbah (cinta) yang harus dibezakan antara satu sama lain, kerana orang yang tidak dapat membezakannya pasti tersesat, ke empat macam mahabbah itu adalah : Pertama : Mahabatullah (mencintai Allah) Mahabatullah saja tidak mencukupi untuk dapat selamat dari azab Allah dan beruntung meraih pahalaNya, Sebab kaum musyrikin, para penyembah salib (kaum nashrani) kaum Yahudi dan selainnya merekapun mencintai Allah juga Kedua : Mahabbatu ma yuhibbullah (mencintai apa saja yang dicintai oleh Allah) Mahabbah inilah yang memasukkan seseorang kedalam islam serta mengeluarkannya fari kekufuran. Manusia yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah orang orang yang paling hebat dalam ber- “mahabbatu ma yuhibbullah” Ketiga : Al-Hubb Lillah wa Al-hubb Fillah ( cinta demi Allah dan cinta karena Allah) Ini merupakan bagian dari konsekwensi “mahabbatu ma yuhibbullah”. “mahabbatu ma yuhibbullah” itu takkan tegak kecuali harus dengan Al-Hubb Lillah wa Al-hubb Fillah ini. Keempat : Al-Mahabbah Ma’allah (mencintai seseuatu dan mensejajarkannya dengan kecintaan kepada Allah ) Ini merupakan “al-mahbbah as-syirkiyah” (kecintaan bercabang, kecintaan yang bersifat syirik) barangsiapa yang ber- “mahabbah ma’alllah” terhadap sesuatau, maka ia bererti telah menjadikan segala sesuatu yang ia cintai selain Allah itu sebagai tandingan terhadap Allah. Ini adalah mahabbahnya kaum musyrikin.”
Sekian sahaja, wallahu a'lam..
Syaitan telah mengadakan perjumpaan iblis-iblis sedunia. Di awal ucapannya, dia berkata, “Kita tidak dapat menghalang umat Islam dari mendatangi masjid, kita tidak dapat menghalang mereka dari membaca Al-Quran dan tahu akan perkara-perkara yang benar. Malah kita tidak dapat menghalang mereka dari membentuk sebuah perhubungan intim dengan Allah. Sebaik sahaja mereka dapat menjalin perhubungan tersebut maka pengaruh kita ke atas mereka akan terputus.”
“Oleh itu, biarkanlah mereka ke masjid-masjid mereka, biarkanlah mereka menikmati hidangan makan malam mereka yang tertudung, tetapi curilah waktu mereka, supaya mereka tidak mempunyai masa untuk membina perhubungan dengan Pencipta.”
“Apa yang aku ingin kamu lakukan ialah,” kata Syaitan
“Lalaikan mereka dari berhubung dengan Tuhan mereka dan mengekalkan perhubungan yang penting itu sepanjang hari.”
“Bagaimana caranya?” jerit para iblis.
“Sibukkan mereka dengan perkara-perkara yang tidak berfaedah dalam kehidupan dan rekalah berbagai-bagai cara untuk memenuhi minda mereka,” jawabnya.
“Pengaruhi mereka untuk belanja, belanja, belanja dan hutang, hutang, hutang. Pujuk isteri-isteri mereka untuk keluar bekerja buat jangka waktu yang panjang dan suami-suami mereka untuk bekerja 6 – 7 hari seminggu, 10 – 12 jam sehari, guna untuk membiayai gaya hidup mereka yang kosong itu.”
“Halang mereka dari menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka. Apabila keluarga mereka mula retak, tidak lama nanti, rumah mereka tidak lagi menawarkan ketenangan dari tekanan kerja.”
“Rangsangkan minda mereka sehingga mereka tidak dapat lagi mendengar suara hati mereka. Umpan mereka untuk mendengar radio atau kaset sewaktu memandu, biarkan TV, VCD, CD dan PC mereka sentiasa terpasang di rumah-rumah mereka dan pastikan setiap kedai dan restoran di dunia ini sentiasa memainkan muzik yang tidak islamik. Ini akan membenakkan minda mereka dan memutuskan perhubungan dengan Allah.”
“Penuhkan meja-meja mereka dengan majalah dan akhbar. Sumbatkan minda mereka dengan siaran berita 24 jam. Cerobohi saat memandu mereka dengan papan-papan iklan. Penuhkan peti-peti surat mereka dengan mel remeh, katalog jual gaya pos, sweepstakes dan segala jenis surat berita dan promosi-promosi yang menyediakan barangan dan perkhidmatan percuma dan impian palsu.”
“Masukkan gambar model-model yang cantik dan ramping di dalam majalah dan TV agar para suami berpendapat bahawa kecantikan luaranlah yang utama, dan mereka akan tidak berpuas hati dengan isteri-isteri mereka.”
“Buatlah agar para isteri terlalu letih untuk bersama dengan suami mereka di malam hari. Tambahkan sekali dengan pening kepala! Jika mereka tidak bersama seperti yang dikehendaki oleh suami mereka, suami akan meninjau-ninjau di tempat lain. Ini akan memporak-perandakan keluarga mereka dengan pantas.”
“Gembar-gemburkan perayaan-perayaan penganut Kristian untuk melalaikan mereka dari mengajar anak-anak mereka makna Islam yang sebenar dan hari-hari perayaannya.”
“Biarkan mereka berlebih-lebihan meskipun sewaktu berekreasi. Buatlah sehingga mereka terlalu letih sesuai berekreasi. Sibukkan mereka sehingga tidak sempat untuk memerhatikan alam semulajadi dan memikirkan tentang ciptaan Allah. Sebaliknya hantarlah mereka ke taman-taman hiburan, acara-acara sukan, pementasan, konsert dan panggung wayang.”
“Jadikan mereka SIBUK, SIBUK, SIBUK!”
“Dan apabila mereka bertemu untuk berbincang hal-hal kerohanian, libatkan mereka dengan umpatan dan cakap-cakap kosong supaya hati mereka tidak tenang ketika bersurai.”
“Lambakkan hidup mereka dengan kerja-kerja amal sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan meminta pertolongan dari Allah. Tidak lama selepas itu mereka akan melakukannya dengan kudrat mereka sendiri, mengorbankan kesihatan dan keluarga mereka untuk kerja-kerja amal tadi.”
“Pasti berhasil! Pasti berhasil!” Bukan calang-calang perancangan ini!
Para iblis dengan tidak sabar-sabar memulakan tugasan mereka untuk menjadikan umat Islam di mana jua menjadi semakin sibuk dan semakin terkejar-kejar ke sana ke sini. Hanya mempunyai sedikit masa sahaja untuk Tuhan mereka atau keluarga mereka. Tidak berkesempatan untuk menceritakan kepada orang lain tentang kekuasaan Allah agar terbuka hati mereka kepada Islam. Rasa saya, persoalannya di sini,
“Adakah perancangan Syaitan ini telah berhasil?”
~ Hakimilah sendiri! Adakah sibuk (BUSY) bermakna :
B-eing U-nder S-atan’s Y-oke? – Berada di bawah telunjuk Syaitan?
13 Februari 2011. Amar menggaru-garu kepalanya yang tidak gatal tatkala melihat tarikh hari ini di kalendar. Kekusutan melanda diri bak tsunami yang menerjah. Dahinya berkerut. Lantas, dia melabuhkan punggungnya di atas katil. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut. Otaknya ligat berfikir.
‘Em.. esok hari Valentine’s.. aku nak bagi apa kat Anith erk….’
Anith Syuhada. Penakhluk hatinya ketika mula-mula mendaftar di Kolej Pendeta Za’ba, Universiti Kebangsaan Malaysia. Tatkala kali pertama Amar melihatnya, dirinya bagaikan terpukau. Terasa dalam dirinya mengalir perasaan yang luar biasa aneh. Ganjil tapi indah. Dia terpaku seketika. Seperti terdapat magnet yang menarik tumpuannya ke arah gadis bertubuh genit itu. Rambutnya yang terurai panjang sehingga ke bahu berterbangan tatkala disapa angin lembut.
Amar mengambil telefon bimbitnya lalu menekan butangnya beberapa kali. Menghantar ‘surat cinta moden’ kepada wanita yang diyakini bakal menjadi isterinya.
Hello anith, anith ada plaster x?
Xda la. Knpe?
Amar jatuh ni. Luka teruk.
Hah? Cmna blh jatuh plak ni?
Bla terigt kt Anith, Amar jatuh cinta lg.. <3
Huh, nakal!
Amar tersengih seorang diri ketika membaca mesej terakhir yang dikirimkan oleh Anith. Hatinya berbunga riang. Badannya direbahkan ke atas tilam. Matanya dipejamkan. Senyuman masih lagi meniti di bibirnya. Rasa rindunya merasuk di kalbu. Hidupnya dirasakan begitu indah. Langsir memori kembali diselak.
**************************************************
Gadis anggun di sisinya itu sedang melemparkan pandangannya ke arah pantai. Bayu angin yang lembut terasa menujah tubuh. Daun-daun pokok kelapa seakan-akan melambai. Langit pula redup sekali. Sang mentari umpama menyorok di belakang awan. Seperti ingin menyimpan sinarnya untuk esok hari.
Amar menoleh mukanya ke arah Anith, mendapati gadis berkulit putih itu sedang tersenyum manis ke arahnya. Amar seperti terkena kejutan eletrik. Dia menundukkan pandangannya cepat-cepat. Jantung mula menendang dada. Ah! Perasaan apakah ini?
“Kenapa, Amar?” Anith bersuara lembut.
Amar mula menggelabah. Rasa berdebar mengalir di seluruh tubuh. Perlahan-lahan, dia mengangkat wajahnya menghadap Anith, gadis yang dicintainya seluruh jiwa dan raga. Amar menelan air liurnya sendiri. Lututnya menggigil. Kedua tangannya digenggamkan. Wajahnya cuba di’cover’ agar kelihatan macho di depan Anith.
“Amar tak sihat ke? Nampak lain macam je ni..” gadis itu bersuara lagi. Nada kerisauan jelas kedengaran.
Suara Anith membuatkan tubuh Amar bertambah longlai. Debaran semakin terasa. Amar menguatkan hatinya. Inilah harinya! Kalau bukan hari ni, bila lagi? Dia bersoal jawab dalam hatinya sendiri. Perasaan yang berombak di hatinya begitu kuat sekali menghempas pantai sanubari. Amar mula menyusun kata-katanya.
“Amar sihat je. Cuma Amar tengah risau ni..” ucap Amar perlahan. Suaranya bergetar dan parau.
“Risau kenapa?” tanya Anith. Dahinya mencorakkan kerutan.
“Amar ada tipu orang..” jawabnya ringkas.
“Hah? Siapa?”
“Diri Amar sendiri. Amar tipu bila cakap hidup Amar lengkap tanpa Anith..” ucap Amar penuh perasaan. Dia merenung mata Anith. Seolah-olah menyampaikan bahasa hatinya melalui mata.
Wajah Anith merah padam. Dia memalingkan tubuhnya lalu melangkah perlahan. Seulas senyuman yang menghiasi bibirnya disembunyikan. Amar pula tidak bergerak dari tempatnya. Umpama terpaku di situ, menantikan sebuah jawapan. Berharap tanpa bersuara.
****************************************************
Amar tersenyum sendiri apabila mengimbau kembali peristiwa yang mula ‘menyatukan’ mereka sejak setahun lalu. Kadangkala, dia tergelak seorang-seorang apabila kenangan itu kembali diusik. Sebelum itu, jenuh dia membuat ‘research’ bagaimana hendak memikat hati Anith. Pelbagai rujukan dari buku, internet dan ‘orang yang berpengalaman’ telah dicarinya. Bagi Amar, itulah pertaruhan yang paling besar dalam hidupnya. Andai diterima, ibarat bulan jatuh ke riba. Andai ditolak oleh Anith, panah derita pasti menusuk kalbu. Hatinya pasti berdarah luka.
**********************************************************
Taman Warisan Pertanian Putrajaya menjadi saksi pertemuan dua sejoli ini. Berpegangan tangan, Amar dan Anith menyusuri taman tersebut. Berjalan perlahan, seiring dengan alunan bayu lembut. Langit mendung tanpa matahari memancarkan cahayanya yang terik. Kehijauan flora di Taman Warisan Pertanian membuatkan kedinginan membungkus tubuh. Segalanya bagaikan pelengkap suasana romantis Hari Kekasih buat Amar dan Anith.
Setelah beberapa ketika, mereka duduk di sebuah bangku kayu. Keduanya saling memandang, bagaikan mencurah kasih. Terasa dunia bagaikan hanya milik mereka berdua. Anith membelek-belek sejambak bunga ros biru dan coklat pemberian Amar. Cantik. Pada kad tersebut tertulis bait kata yang indah, bunga yang paling cantik untuk kekasihku yang tercantik..
“Terima kasih, Amar..” ucap Anith sambil tersenyum manis.
Amar menarik perlahan kedua tangan Anith seraya mengucupnya. “Sama-sama kasih..”
“Amar nampak happy je hari ni.. Dapat awek baru ke?” Anith bertanya sambil matanya menjeling manja ke arah jejaka kesayangannya.
“Kenapa kalau Amar dapat awek baru? Anith suka ke?” Amar menduga.
“Amar! Nak kenalah tu..” Anith melatah lalu ringan saja jejarinya mencubit pinggang Amar.
“Aduh!” Amar mengadu sakit tatkala daging di pinggangnya terasa perit dipulas dek tangan si manis kesayangannya. Namun, kesakitan yang dirasai itu tidak lama. Wajah Anith yang cantik dan manja menjadi ubat dan penawar segala kesakitan. Lantas, Amar ketawa berdekah-dekah. Hatinya digeletek rasa lucu melihat muka Anith yang merah padam akibat dilanda badai cemburu.
“Amar ni.. saja nak kenakan Anith tau.. Dah la, Anith nak pergi toilet kejap.” Anith merajuk manja. Amar masih lagi ketawa perlahan terkekek-kekek.
Amar melemparkan pandangannya ke sekeliling kawasan taman. Terdapat beberapa pasangan yang sedang berjalan beriringan, memadu asmara sempena hari yang berbahagia ini. Masing-masing kelihatan sedang mabuk cinta dan ‘angau’. Gurauan mesra dan jelingan manja saling berbalas. Tidak kurang juga beberapa keluarga bersama-sama anak kecil melangkah bersama sambil menikmati keindahan Taman Warisan ini.
Tiba-tiba, Amar dikejutkan dengan bunyi deringan telefon bimbit di sisinya. Lantas, dia berpaling dan mendapati telefon bimbit Anith telah tertinggal di atas bangku. Perlahan-lahan, Amar mengambil telefon tersebut. Satu mesej baru telah diterima. Pengirimnya, Abang.
Amar terkesima. Abang? Rasa bingung menyerbu minda Amar sepantas kilat. Dahinya mengukir kerutan. ‘Anith kan anak tunggal, siapa pula abang ni?’ Hati kecil Amar berbicara sendiri. Tangannya pantas membuka mesej tersebut.
Syg, kte nk date pukul brpe mlm nanti? I miss u crazily, darling..
Hampir gugur jantungnya tatkala membaca mesej tersebut. Amar terpana. Dunianya bagaikan gelap ketika itu. Lututnya lemah serta-merta. Jiwanya sakit. Hatinya bagaikan dihiris sembilu. Rasa pedih di kalbu tidak tertahan lagi. Perasaannya bergelojak.
“Amar..” tiba-tiba suara Anith kedengaran perlahan.
Amar berpaling perlahan-lahan lalu menghadap gadis yang memiliki hatinya itu. Apakah kerana dia pemiliknya, dia berhak untuk mengoyakkan hatiku sewenang-wenangnya? Anith terkedu tatkala melihat muka Amar yang merah padam itu. Wajahnya yang penuh cinta kini bertukar menjadi wajah yang penuh dengan kekecewaan.
“Siapa ‘abang’ ni..” soal Amar. Suaranya bergetar. Sebagaimana jiwanya bergetar kerna diamuk duka.
Anith terkedu. Dia lekas-lekas menunduk. Matanya menghadap ke bawah. Tidak berani bertentang mata dengan pencintanya. Nafasnya kencang. Anith membisu seribu bahasa, tidak menjawab soalan ‘maut’ itu. Tiada sepatah perkataan pun yang terpacul dari mulutnya. Perasaannya berkecamuk.
Melihat reaksi Anith, Amar menghembuskan nafas berat. Bagaikan meluah rasa yang berkesumat di hati. Titisan jernih yang mula membanjiri mata ditahan daripada gugur. Perasaannya dihiris pilu. Perlahan-lahan, dia melepaskan jambakan ros biru ke tanah. Bunga ros yang kian mewangi itu kemudiannya dipijak hancur. Sehancur luluh hati Amar ketika itu. Kemudian, dia melangkah pergi, membawa jiwa yang disalut duka.
*********************************************************Sepi dan hening seketika. Fikirannya seolah terhenti. Tak mampu untuk berfikir apa-apa dalam situasi itu. Segalanya seakan telah hancur, tiada apa-apa lagi harapan untuk dirinya. Hancur. Musnah. Segala kepercayaan dan sanjungannya semuanya telah dihempas punah begitu sahaja oleh insan yang selama ini amat dicintainya.
Amar menjenguk ke bawah. Pandangan jarak dari tingkat 10 ke bawah pasti membuat sesiapa yang melihatnya berasa kecut perut. Bangunan syarikat swasta di mana Amar sedang berada, benar-benar tinggi meskipun hanya 10 tingkat. Dari tingkat teratas sekali, dia boleh melihat beberapa kenderaan sedang lalu lalang di jalan besar berhadapan dengan bangunan tersebut. Dari situ, kenderaan-kenderaan serta manusia kelihatan begitu kecil sekali.
Minda Amar kosong dan lopong. Hidupnya kini dirasakan tidak bermakna. Pendorongnya untuk hidup sudah pun pergi. Hatinya kini sudah terpaut dengan insan lain. Sebuah keluhan berat dilepaskan perlahan-lahan. Rasa sakit di hatinya telah menjalar di sekujur tubuh. Derita dan kecewanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kala ini, air mata darah sekalipun tidak berguna lagi. Dia yakin, inilah jalan penyelesaian yang terbaik. Dengan cara ini, Amar tidak akan lagi diselubungi rasa gundah dan kecewa. Ianya akan dinoktah selamanya.
Amar melangkah perlahan. Setapak sahaja lagi, kemudian dia akan terjun ke bawah. Titik noktah bagi penderitaan yang kian merasuk dirinya. Penamat bagi rasa gundah yang menguasai kalbu. Ia akan berakhir, sekarang juga!
“Assalamualaikum..” tiba-tiba satu suara garau kedengaran dari belakang.
Amar lantas berpaling. Seorang lelaki pertengahan umur sedang berdiri menghadapnya. Di tangan kanannya, terdapat sebatang tongkat buluh yang dipasakkan ke lantai. Di atas poket kiri kemejanya, tertulis sebaris nama. Hanif Mastal. Pada wajahnya, terdapat satu parut yang memanjang dari telinga kirinya sehingga ke hujung bibir. Hodoh dan menyeramkan dalam masa yang sama.
“Kamu nak bunuh diri ya?” soalnya. Air mukanya serius. Rambutnya yang sudah beruban itu bagaikan berombak tatkala disapa angin.
Amar membentak. “Pak cik jangan sesekali cuba halang saya! Ini keputusan hidup saya!”
“Siapa yang nak halang kamu? Nak terjun sangat.. terjunlah! Huh!” ucap Hanif selamba. Mukanya menunjukkan raut tidak kisah akan tindakan Amar itu.
Amar terdiam. Tidak terkata. “Habis, pak cik datang sini ada apa?” jerkah Amar. Hatinya bengang kerana terasa dipermainkan.
“Pak cik datang ni pun nak bunuh diri juga.”
Amar terkejut bukan kepalang. Rasa bingung membanjiri fikiran. “Tapi.. kenapa?”
“Putus cinta..” Hanif melafazkan kata-kata itu perlahan-lahan. Dari air mukanya, terpancar kesedihan yang maha dalam. Hanya penanggungnya sahaja mengerti betapa beratnya rasa sakit yang dialami.
Hampir tergelak Amar tatkala mendengar jawapan Hanif tetapi segera ditahan takut menyinggung perasaan orang tua itu. Hatinya digeletek rasa lucu. Muka berparut macam tu, siapa la yang nak.. Sakit perut Amar menahan ketawanya. Mahu sahaja dia ketawa terbahak-bahak di situ.
“Kamu ingat pak cik main-main ke? Pak cik putus cinta 4 kali sekaligus tau!” Hanif meninggikan suaranya. Berang.
Dahi Amar mengukir kerutan. Dia terdiam. Rasa hairan menerjah diri sepantas kilat. ‘4 kali sekaligus? Macam mana tu? Pak cik ni pasang 4 cawangan ke?’ bisik hati kecil Amar yang dikuasai jutaan persoalan.
“Bulan lepas.. pak cik pergi bercuti dengan keluarga pak cik ke Port Dickson. Masa tu, pak cik rasa betul-betul gembira sebab baru sempat nak habiskan masa dengan keluarga. Sebelum tu, pak cik sibuk sangat dengan kerja. Rasa macam itulah saat yang paling bahagia buat pakcik. Tapi siapa sangka.. saat paling bahagia tu bertukar menjadi saat paling derita. Saat yang paling pedih. Masa dalam perjalanan balik, entah bagaimana sebuah lori telah terbabas sebelum berlanggar dengan kereta kami. Masa tu, pak cik tak ingat apa-apa langsung. Sedar-sedar, pak cik dah terbaring di hospital.. Ketika tulah, pak cik putus cinta..” jelas Hanif panjang lebar seraya menghembuskan nafas berat. Matanya berkaca. Dia merenung ke hadapan bagaikan pandangannya menembusi 7 petala langit, 7 petala bumi.
Amar mendengar dengan penuh khusyuk. Tujuannya datang ke situ dilupakan sebentar bagaikan ditiup angin. Kedua tangannya memeluk tubuh. “Putus cinta dengan siapa, pak cik?” soal Amar. Rasa ingin tahunya meluap-luap.
“Yang pertama, putus cinta dengan ibu pak cik.. yang kedua, putus cinta dengan isteri pakcik yang tercinta… yang ketiga, putus cinta dengan 2 orang anak pak cik..” Air mata yang ditahan-tahan dari tadi akhirnya gugur jua. Perlahan-lahan, berlinangan di pipi Hanif.
“Yang terakhir?” Amar bertanya.
Perlahan-lahan, Hanif menyelak bahagian bawah seluarnya. Dilipatkan. Kemudian, dia menanggalkan kasutnya yang bersambung dengan betis palsu. Menunjukkan kaki kanannya yang hanya tinggal paras lutut.
Hampir pitam Amar tatkala melihat keadaan sebenar kaki Hanif. Mulutnya ternganga. Matanya terbeliak. Rasa terkejutnya bukan kepalang. Peluh mula memercik di dahinya.
“Yang terakhir, pak cik putus cinta dengan kaki pak cik.. Kaki yang dah berkhidmat dengan pak cik hampir 50 tahun. Sangka pak cik, dia akan mengikut pak cik sehingga akhir hayat. Sehingga ke liang lahad. Tapi tak sangka, Allah ambil balik ‘pinjaman’nya begitu cepat sekali..” jelas Hanif perlahan. Dia tidak akan dapat melupakan tragedi yang baru sahaja berlalu sebulan lepas lepas meninggalkan parut yang maha dalam di hatinya dan parut yang kekal di wajahnya. Yang pasti, kedua-dua parut tersebut menebakkan rasa sakit yang bersangatan. Kesakitan di jiwa kerna diamuk rindu. Sakit dan perit.
Amar terkedu. Terasa penderitaan yang dia alami terlalu kecil, terlalu kerdil jika hendak dibandingkan dengan apa yang dirasai oleh Hanif. Dia tertunduk malu. Sekurang-kurangnya, Amar masih punya keluarga dan sempurna pancaindera. Berbanding Hanif yang boleh dikatakan kehilangan segalanya. Kehilangan pedoman hidup. Kisah Hanif benar-benar meruntun perasaannya. Rasa sayu menjelma di hati. Rasa sebak mula menikam dada.
“Kamu masih ada ayah dan ibu?” tanya Hanif. Amar hanya mengangguk kecil.
“Ada bawa gambar mereka.?” Hanif bertanya lagi. Amar mengeluarkan dompetnya perlahan-lahan lalu mengambil gambar ibu bapanya untuk ditunjukkan kepada Hanif. Hanif menatap gambar tersebut. Kedua ibu bapa Amar sedang berdiri berdampingan, tersenyum indah. Kebahagiaan jelas terpancar dari air muka mereka. Rasa cinta dan kasih mekar subur di sanubari membenihkan kegembiraan.
“Manis senyuman mereka kan?” soal Hanif. Amar mengangguk lagi. Senyuman itulah yang dilihatnya sejak mula mengenal dunia 20 tahun lalu. Senyuman itulah yang menghiasi rantaian hidupnya. Senyuman itulah yang penah lelah membesarkannya tanpa mengharapkan balasan. Senyuman itulah tanda kasih dan sayang seorang ibu dan seorang bapa yang dicurahkan kepada anaknya. Senyuman itulah yang memujuk lelah dan tangisnya. Ya, itulah senyuman yang paling manis di dunia. Senyuman kedua ibu bapanya.
“Agak-agak kalau kau terjun ke bawah nanti kan, apa akan jadi pada senyuman manis ni?”
Pertanyaan itu bagaikan dentuman kilat yang berdentum di telinga Amar! Hatinya bagaikan terbelah, dirobek di situ juga. Dadanya berombak. Rasa sebaknya tidak tertahan lagi. Lantas, Amar menghamburkan air matanya sepuas-puas. Tidak sedikit pun ditahan. Langsung tidak malu dengan Hanif yang memerhatikannya. Air matanya begitu murah. Dicurahkan tanpa ditahan. Meluahkan segala rasa yang terbuku di hati. Diluahkan dalam bentuk titisan jernih yang mengalir laju di pipinya.
Hanif hanya membiarkan Amar menangis sepuas-puasnya. Dibiarkan segala rasa dicurahkan dalam bentuk tangisan. Esak tangsian yang diselangi rasa pilu. Air mata Amar berjejeran hingga ke dagu. Amar menakup muka dengan kedua tangannya.
“Kamu nak bunuh diri kerana putus cinta?” tanya Hanif tanpa memandang ke arah pemuda itu. Pandangannya dilemparkan ke arah kawasan perbukitan hijau yang terletak tidak jauh dari situ. Dalam tangisan, Amar mengangguk sebagai jawapan.
“Adakah berbaloi untuk mati kerana gadis seperti itu?”
“Saya cintakan dia, pak cik..” ucap Amar dengan suara yang tersedu-sedu.
“Kalau dia cintakan kamu, apakah dia akan buat macam tu?” Hanif memprovok.
Amar tidak menjawab. Lidahnya kelu untuk berkata-kata. Dadanya dirasakan seolah-olah berlubang selepas menangis teresak-esak. Segala ukiran rasa telah dizahirkan melalui tangisan sebentar tadi.
“Kamu.. cinta Allah?” tiba-tiba Hanif melontarkan soalan maut itu.
Amar terkedu. Sebagai seorang siswa yang hanya solat jika rajin atau ketika menghampiri musim peperiksaan, dia hanya mampu tertunduk malu. Wajahnya sama merah seperti matanya yang merah akibat menangis. Terasa seakan mahu bersembunyi di balik kerak bumi sahaja.
“Orang selalu kata kan, tak kenal, maka tak cinta. Sebab tu, kita kena kenal Allah dulu. Baru kita boleh cinta Allah. Bagaimana kita nak jadi tenang apabila diuji Allah? Kita perlu kenal Allah. Apabila kita kenal Allah, kita akan tahu sifatNya. Ketika itu, kita akan berfikir? Bukankah Allah itu Maha Pengasih? Pasti ada hikmah Dia uji aku seperti ini. Ujian ni bagaikan ubat dari kekasih. Walaupun pahit, kita kena telan juga sebab kita tahu ada kebaikannya.
Sebab tu, apabila kita diuji, berusahalah untuk mengatasi ujian itu tetapi jangan lupa untuk perhatikan, apakah hikmah ujian ini? Terimalah sebaik-baiknya kerana setiap takdir Allah itu ada hikmahnya walaupun bertentangan dengan kehendak kita. Sesungguhnya apabila orang yang soleh diuji, ujian itulah yang membuatkan mereka makin dekat dengan Allah.
Jangan senang melatah. Ingatlah ibu ayah. Penat-penat mereka besarkan kamu. Senang kamu nak bunuh diri hanya sebab dikecewakan dalam arena percintaan. Berbakti pada mereka, gembirakan mereka dengan kejayaan kamu. Mana tahu dengan berkat usaha kamu gembirakan ibu dan ayah, Allah pilihkan wanita yang lebih baik untuk kamu.” Jelas Hanif panjang lebar. Seboleh-bolehnya dia tidak mahu anak muda ini mati sia-sia kerana cinta. Mati di usia setahun jagung sedangkan bekalan untuk kehidupan abadi belum disediakan dengan rapi.
Tersedu-sedu Amar menangis tatkala mendengar kata-kata Hanif. Kalimah-kalimah yang diutarakan oleh lelaki pertengahan umur itu begitu ringan sekali untuk masuk ke dalam kalbunya. Perasaannya diulit rasa kesal. Rasa menyesal yang tidak sudah.
“Terima kasih, pak cik, sebab sedarkan saya. Mujur pak cik datang. Kalau tak, mesti saya mati sia-sia hanya sebab kecewa..” ucap Amar perlahan. Hati kecilnya memanjatkan ribuan syukur kepada Allah kerana mengutuskan seseorang untuk menyedarkannya.
“ Allah yang bagi ilham, pak cik cuma perantara je. Dah la tu. Jom kita turun. Dah nak waktu zuhur ni..” Hanif merendah diri. Prinsip yang merantai dirinya dipegang teguh. Allah Maha Kuasa. Makhluk tiada daya. Tanpa izin Allah, tiada apa yang boleh berlaku.
“Tapi tadi pak cik kata nak bunuh diri?” tiba-tiba Amar mengusik.
“Alah.. pak cik tipu je tadi. Kejap lagi kena solat taubat balik.. “ jelas Hanif sambil melontarkan sengih. Amar tergelak.
Kemudian, kedua mereka pun berjalan beriringan menuju je rumah Allah. Masing-masing dengan hati, meyakini bahawa pada takdir Allah itu, tersiratnya hikmah. Hikmah yang kadangkala sukar untuk ditafsirkan dengan fikiran. Hanya manusia yang sempurna ilmu dan iman sahaja dapat mentafsirkan hikmah dalam setiap ujian yang Allah berikan kepada dia.